satgas-anti-mafia-bola-bekerjasama-dengan-ppatk

Satgas Anti Mafia Bola bekerjasama dengan PPATK

  1. Homepage
  2. Berita
  3. Liga Indonesia
  4. Satgas Anti Mafia Bola bekerjasama dengan PPATK

Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Bola Polri sampai saat ini terus bergerak untuk mengungkap kasus dari pengaturan skor atau match fixing di sepak bola Indonesia. Baru-baru ini, Satgas telah menggeledah kediaman dari mantan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI yaitu Hidayat.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri yaitu Dedi Prasetyo, mengungkapkan jika dari pihak Satgas akan terus bergerak untuk mengungkap kasus pengaturan skor yang ada di Indonesia.

“Satgas sudah masuk ke Liga 2,” kata Dedi pada saat bersama stafnya dan juga jajarannya, pada Rabu (23/1/2019).

Penggeledahan di kediaman Hidayat yang berada di Surabaya itu berkaitan dengan kasus dugaan pengaturan skor di laga PSS Sleman vs Madura FC di Liga 2 pada musim 2018 lalu. Hidayat telah dilaporkan oleh manajer Madura FC yaitu Januar Hermawan, karena diduga dengan menawarkan diri untuk mengatur skor pertandingan tersebut.

Dedi menambahkan, jika dari pihak kepolisian dan juga satgas berharap dari kasus Hidayat ini bisa menjadi pintu masuk untuk menyelidiki kasus pengaturan skor di Liga 2. Ia pun mengungkapkan, dari pihak kepolisian tidak akan menutup kemungkinan jika menjadikan Hidayat sebagai tersangka.

“Hidayat belum tersangka, masih terlapor, kaitannya dengan pengaturan skor PSS dan Madura. Nanti misalnya kuat alat buktinya, Hidayat tidak menutup kemungkinan menjadi tersangka,” ujar Dedi.

Lebih lanjut, Dedi menuturkan pihak kepolisian dan satgas kini juga sudah bekerjasama dengan Pusat Pelaporan dan Analsisis Transaksi Keuangan (PPATK). Menurutnya, kerjasama bersama PPATK akan lebih mempermudah pihak satgas dan polisi menelusuri bukti transfer dari para tersangka di kasus pengaturan skor tersebut.

Dedi mengungkapkan, para tersangka pengatur skor memiliki cara yang berbeda-beda untuk mengalirkan uang itu dari satu pihak ke pihak yang lain. Di Liga 3 misalnya, dari pihak kepolisian pun sudah menggunakan bukti transfer untuk mengungkap kasus pengaturan skor.

“Pengalamannya pintu masuknya dari Liga 3, pembuktiannya masih konvensional. Bukti transfernya kasar-kasar. Semakin tingggi semakin halus lagi,” kata Dedi.